Manusia yang Ramah Lingkungan
Seringkali kita dengar istilah bahan bakar ramah lingkungan. Tapi sebenarnya “apa” atau “siapa” kah yang seharusnya bersikap ramah pada lingkungan? Apakah manusia? Ataukah bahan bakar?
Banyak yang mengatakan agar manusia mulai menggunakan sumber energi yang ramah lingkungan. Tapi apakah manusia sendiri juga bersikap ramah pada lingkungan? Kini dunia dihadapkan pada masalah yang begitu komplek yaitu Pemanasan Global. Dalam rangka menekan dampak pemanasan global, manusia kebanyakan hanya berpikir bagaimana menemukan alternatif dari kebiasaan yang telah berlangsung selama ini dalam hal penggunaan bahan bakar sebagai sumber energi. Tapi sebenarnya hal mendasar yang lebih utama yang diperlukan bukanlah mencari alternatif bahan bakar yang ramah lingkungan, melainkan membentuk “manusia yang ramah lingkungan”.
Meskipun telah banyak ditemukan sumber energi yang ramah lingkungan, tetapi jika manusianya sendiri tidak bersikap ramah pada lingkungan, maka tidak ada artinya berbagai penemuan baru manusia yang hanya memikirkan masalah energi ramah lingkungan.
Back to Nature, sebenarnya bisa kita mulai dari hal dasar yang kadang sudah jarang kita lakukan. Jika dulu para orang tua hanya perlu berjalan kaki untuk menempuh jarak yang terbilang cukup jauh dan rute yang tak semulus jalanan sekarang ini, mengapa kita sebagai generasi muda yang tentunya memiliki fisik yang lebih kuat dan didukung dengan jalan atau rute yang jauh lebih mudah untuk ditempuh justru membutuhkan alat bantu kendaraan? Bahkan kadangkala hanya untuk mencapai beberapa meter saja kita memakai alat bantu kendaraan. Jawabannya klise, “malas”. Itulah kita sekarang ini.
Memang sulit untuk mengendalikan masalah rasa “malas” ini. Itulah mengapa masalah borosnya sumber energi sulit untuk ditekan. Jika kita memang tidak mampu atau tidak kuat berjalan kaki, mengapa kita tidak beralih pada alat transport yang tak kalah efisien seperti sepeda? Bukankah telah banyak orang yang mampu membeli kendaraan bermotor yang memerlukan bahan bakar yang sudah mulai menipis persediaannya dan mahal harganya? Tentunya sepeda bukanlah barang yang mahal bagi mereka. Tapi kenapa kini mereka malah justru berlomba-lomba membeli kendaraan bermotor bahkan mobil mewah yang mungkin tak begitu efisien untuk mengangkut beberapa orang?
Jawabannya juga sama klisenya dengan “malas”, yaitu “gengsi”. Rasa yang banyak menghinggapi kaum borjuis ini memang sudah mulai menjamur di kalangan menengah ke bawah. Seandainya tak banyak mobil mewah yang menjadi sumber utama pemborosan energi ini, mungkin sedikit banyak kebutuhan bahan bakar bisa dikurangi. Dan alampun tak perlu banyak “diperas” isinya. Kedua hal diatas (malas& gengsi) itulah yang membuat kita menjadi manusia yang tidak ramah lingkungan.
Lalu bagaimana manusia yang ramah lingkungan itu? Bukan manusia yang selalu memeras alam dengan semena-mena hanya semata-mata karena “malas& gengsi” melainkan manusia yang bekerjasama dengan alam untuk menggunakan apa yang alam sediakan sejauh apa yang kita butuhkan. Bukan sejauh apa yang kita “inginkan”. Tentunya manusia yang tidak malas dan tidak gengsi lah yang menjadi manusia yang ramah lingkungan.
Mengapa perlu alat bantu kendaraan untuk menempuh jalan lurus dan halus yang tak sampai satu kilometer?
Mengapa harus ada mobil mewah egois yang kadangkala hanya mengangkut satu orang di dalamnya, sementara bahan bakarnya sama banyaknya dengan bus umum yang mengangkut lebih banyak orang?
Jika dengan bejalan kaki dan bersepeda kita bisa pergi ke tempat yang kita tuju sambil berolahraga, mengapa kita malah memilih kendaraan yang tak bisa sekalian untuk berolahraga?
Jika waktu menjadi kendala, mengapa kita tak lebih rajin bangun pagi untuk berangkat lebih awal tanpa harus naik kendaraan bermotor agar lebih cepat?
|
Jika alam telah berbaik hati untuk berbagi apa yang ia miliki untuk kita gunakan, lalu mengapa kita begitu tamak menggunakan apa yang ia miliki?
|
Jika jarak menjadi kendala, apakah kita harus sampai naik kendaraan pribadi yang “egois” menghabiskan sisi jalan dan banyak memerlukan bahan bakar?
Jika alam telah berbaik hati untuk berbagi apa yang ia miliki untuk kita gunakan,
lalu mengapa kita begitu tamak menggunakan apa yang ia miliki?
Juni 5, 2009 pada 4:07 pm
sebagai warga dunia, maka sudah sepatutunya jika kita menunjukkan kepedulian pada bumi tempat kita berpijak. semata-mata hal ini dilakukan demi menjaga lingkungan yang tetap lestari dan nyaman untuk dihuni… see more http://commentnews.wordpress.com/2009/06/05/bersikap-ramah-pada-lingkungan/