Cerpenku di Solopos
Selamat Jalan Citra
Malam minggu adalah hari yang paling menyenangkan bagiku.tapi tidak untuk malam minggu yang satu ini. Sabtu akhir di bulan Februari yang penuh hujan dan angina. Hari itulah aku terakhir bertemu dengan Citra.
Seperti biasa, seusai jam sekolah aku menuju ke kantin sekolah untuk mengisi perutku. Segera setelah jemputan datang, aku diantar ke tempat kursus. Sebenarnya aku tidak begitu ingin ikut kursus musik. Tapi karena mama memaksaku, sehingga aku ikut juga. Semula aku merasa begitu bosan tetapi setelah aku berkenalan dengan Citra yang memang senang musik dan ikut kursus karena memiliki cita-cita untuk menjadi seorang pemusik, aku menjadi bersemangat mengikutinya.
Berbeda denganku yang ikut kursus karena dipaksa oleh mama, Citra ikut karena memang keinginannya sendiri. Aku tidak pernah punya keinginan untuk menjadi seorang pemusik. Aku hanya asal bisa bermain biola saja agar mama senang.
Citra memang ingin menjadi pemusik. Dia mulai serius berlatih musik sejak lima tahun lalu. Dia memang berbakat bermain biola. Permainannya yang istimewa itu sungguh memikat. Ditambah dengan kecantikannya yang lembut, sikapnya yang ramah, bersahabat dan senyumnya yang hangat. Aku yakin pasti banyak yang menyukainya.
Entah kenapa aku yang tak pernah mau kalah dari siapapun, begitu takluk setelah menghadapi Citra. Aku seolah-olah telah tersihir oleh pesona Citra. Citra begitu pandai memainkan biola. Setiap kali kami bermain bersama, permainan biolaku yang asal-asalan dapat ditutupi kelemahannya oleh Citra. Aku sangat menikmati saat-saat bersama Citra.
Setiap kali dipuji, Citra selalu tersenyum tersipu-sipu. Aku jadi semakin mengaguminya. Aku berpikir, aku pasti akan sangat bersyukur bila dapat menjadi seperti Citra. Aku mulai mengikiti penampilan, gerak-gerik tingkah laku dan kerajinannya. Aku tidak ingin kalah dari Citra. Aku ingin menjadi seperti dia.
Tapi sejak Sabtu itu, setelah aku mengetahui keadaan yang sebenarnya tentang Citra, aku tidak berani lagi berharap menjadi Citra. Aku tidak lagi beranggapan bahwa Citra lebih beruntung dariku.
Waktu itu, ketika aku tiba di pintu gerbang tempat kursus, suara petir menggelegar tiba-tiba. Rasanya hampir memecah gendang telingaku. Gerimis mulai turun dan semakin deras.
“Duh, sial…! Mana aku nggak bawa payung lagi!” gerutuku sambil berlari melintasi halaman parkir yang cukup luas. Tak jauh di depanku aku lihat Citra juga tengah berlari.
“Citra!” teriakku sambil mempercepat lariku. Tapi Citra terus saja berlari tanpa menoleh, seolah dia tidak mendengar suaraku. Karena penasaran, aku berteriak lebih keras dan lebih mempercepat lariku. Tapi Citra terus saja berlari dan baru berhenti setelah berada di teras gedung. Aku berteriak sekali lagi. “Citra!” Sedikitpun dia tidak menoleh. Dengan sedikit rasa jengkel aku menghampirinya dari belakang sambil menepuk pundaknya.
“Hei, non jangan sombong gitu dong, dipanggil, diam aja!” seruku agak jengkel.
Citra tampak kaget dan sangat terkejut. Matanya yang bagus itu membelalak menatapku. “Nggak mungkin kalau nggak dengar, suaraku hampir habis begini!” sambungku. Citra tetap saja membelalak dan tiba-tiba wajahnya tampak ketakutan. Mulutnya menganga hendak mengatakan sesuatu tapi tidak jadi. Malahan dia menunduk.
Aku merasa heran dengan sikap Citra. Apa aku terlalu kasar? Sehingga ia menjadi sedih. Aku jadi merasa tidak enak. Kucoba menggenggam tangannya “Citra…” panggilku perlahan. “Kamu kenapa?” Sejenak suasana menjadi hening.
Perlahan Citra mengangkat mukanya, matanya tampak berkaca-kaca. “Aku tidak bisa mendengar lagi…” katanya sambil terisak. Aku sangat kaget dan bingung mendengar perkataannya. “Suara petir itu…suara petir itu…” ucapnya lirih. Aku semakin bingung dan penasaran. Citra terus saja menatapku. Perlahan tangan kanannya menyibak rambutnya yang panjang yang selama ini tergerai di pipi dan memperlihatkan alat bantu dengar yang dipakai di telinganya.
“Ren, selama ini alat ini yang membantuku mendengar,” perlahan Citra menarik alat itu dari telinganya, “tapi sekarang tidak ada gunanya lagi…” Aku tersentak mendengar apa yang dikatakannya. Aku tidak ingin mempercayai apa yang aku dengar saat itu. Tapi Citra tidak mungkin berbohong, lagipula bukti alat itu…?
Aku berharap Citra mau menjelaskannya tanpa ditanya. Mataku begitu perih saat Citra berkata, “aku tidak bisa lagi mendengar suaraku sendiri.” Aku berusaha menenangkan diriku. Apa yang harus kuperbuat agar suaraku didengarnya, apa aku harus berteriak?
Dengan tegang aku menggoncang tangan Citra dan berusaha berkata, “Cerita, ce-ri-ta!!” kataku sambil terisak sambil berharap Citra mengerti. Entah apakah Citra mengerti apa yang kukatakan atau tidak, tapi dia mencoba membuka bibirnya dan mulai bercerita.
Sunyi beberapa saat sebelum ia berkata sesuatu, yang terdengar hanya suara angin dan gerimis yang tak kunjung reda. “Jangan berkata apa-apa Ren, jangan bicara apa-apa, percuma, aku tidak bisa mendengar suaramu…” ucapnya lirih. “Biar aku saja yang cerita, mudah-mudahan aku tidak salah mengucapkannya…” Aku hanya bisa menahan agar air mataku tidak jatuh karena aku tidak ingin membuat Citra terluka karena melihatku menangis untuknya.
“Kamu pasti terkejut, tadi aku juga terkejut dan sangat takut, tapi aku sudah tahu, pada suatu saat aku akan tuli. Tapi aku tidak menyangka akan secepat ini. Ketika itu, kira-kira tiga tahun yang lalu aku mengalami kecelakaan. Pendengaranku pun mulai sering terganggu,” Citra berhenti sejenak dan menarik nafas dalam-dalam lalu meneruskan ceritanya. “Dokter mengatakan ada kerusakan pada alat pendengaranku yang perlahan-lahan akan membuatku tuli…”
Citra begitu tegar menceritakan hal itu padaku. “Saat itu aku tidak begitu mengerti apa yang dikatakan dokter, yang aku tahu gendang telingaku rusak terkena suara yang kencang, sehingga perlahan-lahan aku menjadi tuli.”
Hening sejenak.
“Aku pernah mengalami kecelakaan hingga kedua telingaku mengeluarkan darah. Kalau saja mamaku lalai dalam mengobati telingaku, mungkin sejak dulu aku sudah tuli. Yang membuatku merasa sedih, mamaku selalu merasa bersalah terhadap apa yang menimpaku. Beliau tidak bisa mempercayai takdir yang menyedihkan ini.”
“Aku sudah lama menyiapkan diri untuk menerima takdir buruk ini. Ren, aku seharusnya tidak merasa sedih lagi ataupun menyesal, ” diusapnya air matanya yang mulai menetes itu. Aku pun tertunduk sambil menggigit bibirku dan meremas tangan Citra yang terasa begitu dingin. Aku tidak bisa berkata apa-apa
Kembali Citra berkata, “sudah saatnya aku pergi, aku tidak bisa di sini terus, ini bukan tempatku, aku harus belajar hidup sebagai orang yang tuli.”
Kuambil selembar kertas dan kutulis “tapi kenapa harus pergi?” Citra tersenyum melihatku. “Aku sudah lama memikirnya Ren, aku harus memulai dari awal yang baru dengan keadaanku yang saat ini. Aku tidak akan bisa menyesuaikan diri lagi di sini. Sebenarnya aku juga tidak ingin meninggalkan sekolah ini dan meninggalkanmu Ren,. Aku akan bersekolah di sekolah khusus untuk orang tuli sepertiku” kata citra panjang lebar.
“Hari ini akan menjadi hari terakhirku di sini. Sebenarnya aku juga sedih harus pergi, tapi aku tak punya pilihan lain. Meskipun aku sangat senang di sini, bermain musik dan bercita-cita menjadi pemusik. Aku sungguh tidak bisa membayangkan hidupku tanpa suara…”
Gerimis mulai reda. “Aku sudah cerita semuanya Ren, tolong simpan rahasia ini. Mulai besok, kita tidak akan bertemu lagi, tapi aku pasti akan terus mengingatmu. Aku senang berteman denganmu, kamu adalah teman yang baik Rena.” Aku mulai tak bisa menahan tangis.
“Kita latihan sama-sama sekarang untuk yang terakhir kalinya mau?” pinta Citra padaku. Aku pernah berharap menjadi Citra, paling tidak saat ini aku ingin bisa setabah Citra. Tanganku gemetaran saat memegang biola, berbeda dengan Citra yang malah tampak begitu tenang.
Berminggu-minggu sesudah itu aku masih tetap berharap Citra tiba-tiba muncul di ruang kelas dengan biola di tangannya.